Membentengi Anak dari Perilaku Menyimpang


Biasanya, para remaja yang terjerumus dalam pergaulan destruktif karena mereka kurang perhatian dari orang tuanya. Anak-anak merasa orang tuanya bukan teman yang untuk sekedar mendengar segala keluh kesahnya, anak-anak remaja kita butuh sosok panutan, butuh figur orang tua yang bisa menjadi teman berdiskusi. Jika hal itu tidak didapat di dalam rumah, maka mereka akan keluar rumah mencari pelarian.

Sebagai orang tua , kita harus meningkatkan kewaspadaan karena budaya destruktif masuk melalui berbagai celah untuk mempengaruhi anak-anak kita. Tugas para ayah bukan hanya di luar rumah mencari rezeki dan membesarkan badan anak-anaknya saja, tapi juga menanamkan pendidikan karakter pada perilaku anak agar mereka memiliki konsep, nilai, dan misi hidup yang jelas.

Anak-anak yang sangat berpengaruh pada teman-teman sepermainan yang sebaya atau bahkan lebih tua dari usianya, kerap kali bukan ditentukan oleh kecerdasan intektualnya, melainkan seberapa kuat karakter membentuk dirinya. Tak peduli karakter itu baik atau buruk. Kalau karakternya yang menonjol sangat baik, maka anak-anak di sekelilingnya akan terbawa. Yang semula buruk, berkurang keburukannya dan berangsur-angsur menjadi baik.

Menurut Mohammad Fauzil Adhim, dalam bukunya yang berjudul “Positive Parenting” mengatakan, karakter yang kuat dibentuk oleh penanaman nilai yang menentukan tentang baik dan buruk. Nilai ini dibangun melalui penghayatan dan pengalaman, bukan melalui pengetahuan. Karena pengetahuan yang tidak dihayati dan diyakini sebagai sikap terbaik, tidak akan memberi bekas apa-apa terhadap perilaku. Dan sikap terbaik itu penopangnya adalah harapan dan ketakutan. Jika Anda merasa perilaku sex menyimpang adalah perbuatan dosa, tetapi dorongan keinginan untuk melakukan perilaku menyimpang lebih menguasai diri, maka pengetahuan tentang bahaya sex menyimpang yang kita sampaikan tidak berati apa-apa.

Para ayah harus lebih peka dan peduli lagi pada dunia anak-anaknya. Hanya para ayah yang bisa mengajarkan ego, pengaplikasian suatu pengetahuan , membuat anak percaya diri, punya prinsip dan berani beda dengan teman-temannya. Absennya ayah dalam mendidik akan membuat anak kompromistis. Temannya merokok, dia ikut-ikutanan. Teman-temannya melakukan seks menyimpang, dia ikut-ikutan. Anak tak bisa bilang tidak pada teman.

Ingat wahai para ayah, kaum gay di Indonesia masih discreet. Mereka belum mendeklarasikan dirinya sebagai homo di kalangan publik, mereka cenderung memilih teman di jejaring sosial khusus untuk mereka. Karena itu jadilah sahabat dan soulmate bagi anak remaja kita, jadilah kepercayaannya. Remaja kita tidak butuh ahli nasehat. Ia butuh pendengar yang baik, agar mereka tidak terjerumus dalam pergaulan yang merusak. Wallahu a'lam. (dakwatuna.com/hdn)

Selanjutnya ...